Belakangan ini ada kamu, masih di tempat yang sama, dalam tikungan yang tidak berbeda.
Sebuah tikungan berbaris jurang, berlengan bulan dan ditemani oleh parit-parit ringan yang menyediakan satu bentuk kehanyutan. Kamu selalu berdiri disana, ditengah-tengah tikungan, beradu pandang dengan lonceng yang menikam nyawa pendengarnya.
Kamu hidup bukan hanya dari kenangan. Toh, kadang kamu menyapa, sekedar candaan ringan dengan senyum seadanya atau dalam diam dengan seribu pikiran yang mengusik pendirian--dan dalam diam itupun saya menunggu.
Tidak mudah mencari bahasa yang tepat untuk menciptakan nada yang serupa, tapi kamu membuat segalanya menjadi mudah, menggoda saya untuk masuk dalam parit yang memendam semua parau kerinduan, burung gagak pun menertawakan saya yang iya-iya saja mengayuh roda yang tidak bundar.
Kadang kamu menggunakan ilusi dalam setiap sudut bayangan, menghibur saya dalam masih tenggelam menuju kegelapan yang mereka ciptakan. Kamu sanggup memberikan saya kekuatan untuk menarik senyum yang enggan saya pamerkan.
Setelah memberikan candu yang mengikat, kamu menghilang. Kembali pada diam dan lonceng bisu itu--lonceng yang hanya dapat didengar oleh orang yang meregang nyawanya. Itukah ambisimu? Ingin saya mengalah pada ego dan meninggalkanmu begitu saja. Tapi saya tidak bisa.
Karena saya.. sayang kamu.
Dan disini.. kembali saya pada tikungan itu, menunggu kabut pekat yang masih mencari waktu untuk menurunkan dinding-dinding kemaraunya, menunggu terucapnya kita yang masih bersandar pada matahari senja dan mimpi-mimpi cantik yang belum terselesaikan.
Saya menunggu kamu dan semua ilusi arogansi kita. Masih di tikungan itu... Masih bersama rintik cahaya yang enggan hilang atau dilupakan begitu saja.
Malam, mengapa masih diam?
Kamis, 28 November 2013
Rabu, 13 November 2013
Pleasant Nightmare
Opening theme song Suburgatory. Entah kenapa langsung bergaung dikepala.. Apalagi yang dinyanyiin sama George Altman (Jeremy Sisto). Indah banget.. :')
Lyrics :
Against a woollen sweater that was blue
That's all that I remember of you
Before you learned to walk,
I learned to run.
Guess the ants really go marching one by one.
When a train rolls in
The door open I get in.
Last night I had
A pleasant nightmare
Na, na, na, na
na, na, na, na
Theres an ocean form outside my bedroom door,
On the sleepless night i listen to it roar
There a road too long to walk to step to climb
At the end of it is what you left behind
And when a train rolls in
The doors open don't get in
Last night I had
A pleasant nightmare
Da, da, da, da
da, da, da, da
I said
da, da, da, da
da, ra, dap
Jumat, 08 November 2013
Serendipity
Ser.en.dip.i.ty.
Ketidaksengajaan yang menyenangkan.
Kata ini, kerap menarik saya kembali pada masa silam. Masa dimana kita adalah kamu. Ya. Kamu. Hanya kamu.
Menarik memang, bagaimana kamu adalah serendipity saya. Karena bukan saya yang menemukan kamu, tapi kamu yang menemukan saya, ketika kamu sedang mencari dia, gadis buta yang sedang bersamamu waktu itu. Buta karena dia tidak bisa melihat kebusukan kamu.
Tapi saya bisa. Ya. Saya bisa.
Saya bisa melihat bagaimana kamu mempermainkan gadis itu, dan mematahkan hatinya begitu saja. Katamu, semua itu demi saya. Ironis memang, kamu menemukan saya ketika sedang mencarinya, mencari kekurangan gadis itu. Dengan jahatnya, saya membela kamu. Saya tidak yakin mengapa, karena pada akhirnya kita saling melepaskan kenyataan dan sampai sekarang kita masih mengadu fakta yang tidak memiliki ujung. Haha! Ukiran mimpi itu masih terikat, bukan?
Saya menemukanmu ketika saya sedang mencari kesendirian. Namun bukan kesendirian yang saya dapatkan, tapi kita dan kita itu adalah kamu--dan kamu lebih menyenangkan dibanding kesendirian saya. Paling tidak sebelum saya bisa melihat wajah asli kamu.
Kamu tidak jahat, sama sekali tidak. Malaikat bertopeng iblis, semua terjadi hanya demi mempertahankan pemikiranmu--yang bila saya tidak berjanji untuk merahasiakannya, saya sudah beritakan sejak dulu.
Tentu, saya masih mengingatmu dan ukiran itu. Bukan karena janji kita untuk saling membohongi diri, tapi karena kamu mengajari saya untuk mengukur sifat dengan waktu dan perbandingan masa itu. Kamu membuat saya yakin, keseimbangan hanyalah hal paling bodoh yang selama ini kita kejar, keseimbangan pula yang mengejar kita hingga jatuh terpuruk dalam lubang hitam yang tidak segan menghisap kebahagiaan yang dulu mengitari kita.
Tidak peduli berapa kali kita menemukan jalan untuk kembali, pada akhirnya kita hanyalah akan saling melepaskan. Dan lepas atau tidaknya ukiran itu, kamu masih menjadi serendipity saya.
Kamu tidak jahat, sama sekali tidak. Malaikat bertopeng iblis, semua terjadi hanya demi mempertahankan pemikiranmu--yang bila saya tidak berjanji untuk merahasiakannya, saya sudah beritakan sejak dulu.
Tentu, saya masih mengingatmu dan ukiran itu. Bukan karena janji kita untuk saling membohongi diri, tapi karena kamu mengajari saya untuk mengukur sifat dengan waktu dan perbandingan masa itu. Kamu membuat saya yakin, keseimbangan hanyalah hal paling bodoh yang selama ini kita kejar, keseimbangan pula yang mengejar kita hingga jatuh terpuruk dalam lubang hitam yang tidak segan menghisap kebahagiaan yang dulu mengitari kita.
Tidak peduli berapa kali kita menemukan jalan untuk kembali, pada akhirnya kita hanyalah akan saling melepaskan. Dan lepas atau tidaknya ukiran itu, kamu masih menjadi serendipity saya.
Senin, 28 Oktober 2013
Malam
Saya sudah terbiasa dengan malam, tapi bukan dengan kesendirian.
Saya tidak takut dengan malam. Saya biasa mendampingi kegelapan, tapi tidak dengan kesendirian. Menggerogoti dari dalam, memberikan tekanan pada otak saya untuk terus meyakinkan saya tidak sendiri!
Saya takut kesendirian, tapi saya bukanlah orang yang segan untuk menyendiri.
Bukan takut, hanya tidak suka. Saya. Tidak. Suka. Rasanya sepi. Dan dalam sepi, saya menyadari berapa besar lubang yang selama ini saya coba tutupi. Kepala akan kembali meneriakan cacian yang sulit untuk dihentikan. Imajinasi saya akan mengelana, menyusuri masa-masa dimana terang itu berarti sendiri.
Harus saya akui, saya bukanlah orang yang mencintai keramaian, namun saya benci kesendirian. Muluk.
Saya bukan pelengkap, saya tidak bisa dibilang sebagai pendiam, saya lebih menilai diri saya sebagai seorang penyendiri yang menikmati keramaian.
Seperti malam. Saya adalah kegelapan yang dapat mendampingi.
Saya tidak takut dengan malam. Saya biasa mendampingi kegelapan, tapi tidak dengan kesendirian. Menggerogoti dari dalam, memberikan tekanan pada otak saya untuk terus meyakinkan saya tidak sendiri!
Saya takut kesendirian, tapi saya bukanlah orang yang segan untuk menyendiri.
Bukan takut, hanya tidak suka. Saya. Tidak. Suka. Rasanya sepi. Dan dalam sepi, saya menyadari berapa besar lubang yang selama ini saya coba tutupi. Kepala akan kembali meneriakan cacian yang sulit untuk dihentikan. Imajinasi saya akan mengelana, menyusuri masa-masa dimana terang itu berarti sendiri.
Harus saya akui, saya bukanlah orang yang mencintai keramaian, namun saya benci kesendirian. Muluk.
Saya bukan pelengkap, saya tidak bisa dibilang sebagai pendiam, saya lebih menilai diri saya sebagai seorang penyendiri yang menikmati keramaian.
Seperti malam. Saya adalah kegelapan yang dapat mendampingi.
Minggu, 27 Oktober 2013
The Moon #2 Bulan dan Kegilaan
Saya sangat rindu bulan. Cahanyanya yang berpendar, kecantikannya di langit malam, semuanya.
Salah seorang teman mengatakan, terlalu banyak cahaya bulan bisa buat kamu gila.
Teorinya tidak salah.
Pernah dengar kata lunatic? Dalam bahasa, merajuk kepada seorang yang gila, tidak dapat terprediksi, sakit mental, dan berbahaya. Kata lunatic tersendiri diambil dari luna yang berarti bulan. dan lunatic diartikan sebagai suatu penyakit yang disebabkan oleh cahaya bulan.
Konsepnya menarik. Tapi...
Mungkin bukan bulan yang salah. Mungkin orang yang gila, merasa terobati ketika dia melihat bulan. Seperti saya.
Dan iya. Saya memang gila. Sudah lama.
Salah seorang teman mengatakan, terlalu banyak cahaya bulan bisa buat kamu gila.
Teorinya tidak salah.
Pernah dengar kata lunatic? Dalam bahasa, merajuk kepada seorang yang gila, tidak dapat terprediksi, sakit mental, dan berbahaya. Kata lunatic tersendiri diambil dari luna yang berarti bulan. dan lunatic diartikan sebagai suatu penyakit yang disebabkan oleh cahaya bulan.
Konsepnya menarik. Tapi...
Mungkin bukan bulan yang salah. Mungkin orang yang gila, merasa terobati ketika dia melihat bulan. Seperti saya.
Bulan itu cantik. Dan sesuatu yang cantik itu sering kali menyakitkan. Seperti jatuh yang jelas menyakitkan. Justru sakitnya yang membuat jatuh itu indah. Seperti bulan. Bulan juga indah.
Dan iya. Saya memang gila. Sudah lama.
Day 1 : South Indian
Samy's Curry Restaurant.
the most famous south indian cuisine, they said.
Food was okay. There was a little bug in my motton. But that was okay.
Not a big problem.
They got this strong taste of southern food. Totally love that!
Minggu, 20 Oktober 2013
Pic #1 : Night to Remember
Here's a pic from our night trip to Puncak. We got there by her boyfriend's car and (as usual, after she got her boyfriend), i'm being the cool-single-whos-not-bothered friend.
She wore this blue-white Jacket.
I know i can trust her. One of my best friend that i proud of.
It's just like they said, a friend in need is a friend indeed.
(Abu) Abu
Aku mengerti kamu, tapi biru bukan abu-abu.
Padangan semu berbasa pilu, mari ku kenalkan sang pengadu.
Abu yang mengaduh. Abu yang diadu.
Dia bukan sekedar kabut dalam laku.
Kalau kamu mengerti, Abu kan berseri.
Kalau seri tidak lindang dalam abstraksi, mereka yang hilang akan kembali.
Jangan pedulikan! Mereka hanyalah pagi yang terbenam mimpi.
Mereka bukan kamu, Pria bodoh yang hilang kendali.
Mereka bukan kamu, Pria bodoh yang hilang kendali.
Dan demi semua pembisik sunyi. Juga demi semua kunang dalam bayang abstraksi.
Aku mengerti kamu, karena kamu (Abu) Abu-ku.
Sebuah tulisan lama yang masih bersandang pada note laptop.
Untuk seorang yang dulu pernah menjadi bayangan abu-abu. Semoga suka :)
Kamis, 17 Oktober 2013
The Moon #1 Bulan dan Ceritanya.
Jurnal bulan, hari pertama.
Saya percaya pada suatu legenda..
Legenda itu mengatakan, bulan adalah seorang wanita, sedangkan matahari adalah prianya. Keduanya tidak lebih dari pasangan yang terpisahkan.. selalu begitu sejak ribuan tahun yang lalu. Hanya tersatukan pagi dan senja.
Matahari itu kuat. Bulan itu lembut. Keduanya membentuk keindahan yang bermain dalam bayangan.
Malam ini, bulan terlihat bersinar sendiri, tidak ada bintang, hanya ada bayangan matahari, untuk menemani bulan tentu saja, memberikan kecantikan yang menjadi candu para penganggum rahasia bulan. Seperti malam-malam biasa. Awan hanyalah seperti asap tipis, yang tidak memiliki daya menghalangi bulan.
Matahari masih terbayang pada bulan.
Halo.
Hari biasa.
Biasa.
Biasa.
Biasa.
Biasa.
Biasa kali ini, biasa yang berbeda. Hari ini tenang. Tidak ada bayangan badai yang mengabil alih pikiran saya. Tidak ada badai, tidak seperti biasanya.
Biasanya, saya tidak membaca ulang karya-karya saya. Mati begitu saja. Tidak diakui, menjadi asing dengan tulisan sendiri. Kenangan yang awalnya terluapkan, menjadi terlupakan. Hanya menjadi alat untuk kesenangan sementara, sekedar meluangkan waktu kosong, waktu gabut, waktu untuk saya sendiri.. biasanya.
Biasanya, saya hanya menulis dalam note atau word di laptop, tapi tidak dalam blog. Tidak untuk dibaca secara umum. Tidak berani mengakui karya sendiri. Toh, karya saya masih jauh dibawah standar untuk dibaca.. biasanya.
Biasanya, tidak perlu suatu alasan untuk membuat blog, bukan? Tapi saya punya. Saya ingin menghilangkan kebanyakan "biasanya-biasanya" pada diri saya. Membuat kebiasaan baru untuk memulai, memulai mengakui karya, memulai penghidupan tulisan, maupun sketsa yang saya tidak berani tunjukan.
Biasanya, saya tidak membaca ulang karya-karya saya. Mati begitu saja. Tidak diakui, menjadi asing dengan tulisan sendiri. Kenangan yang awalnya terluapkan, menjadi terlupakan. Hanya menjadi alat untuk kesenangan sementara, sekedar meluangkan waktu kosong, waktu gabut, waktu untuk saya sendiri.. biasanya.
Biasanya, saya hanya menulis dalam note atau word di laptop, tapi tidak dalam blog. Tidak untuk dibaca secara umum. Tidak berani mengakui karya sendiri. Toh, karya saya masih jauh dibawah standar untuk dibaca.. biasanya.
Biasanya, tidak perlu suatu alasan untuk membuat blog, bukan? Tapi saya punya. Saya ingin menghilangkan kebanyakan "biasanya-biasanya" pada diri saya. Membuat kebiasaan baru untuk memulai, memulai mengakui karya, memulai penghidupan tulisan, maupun sketsa yang saya tidak berani tunjukan.
Untuk kamu yang tidak mengenal saya, inilah saya, Fitriana Sukma Damayanti. Manusia yang sedang bertindak tidak biasa yang biasanya menenggelamkan dirinya sendiri, malas untuk keluar dari pikirannya sendiri.
Tapi hari ini lebih dari sekedar hari biasa. Hari ini tidak ada badai. Hari ini saya menyendiri didepan monitor saya, menunggu untuk sekedar berkata..
"Halo."
Tidak perlu alasan untuk membuat blog, bukan?
Tapi hari ini lebih dari sekedar hari biasa. Hari ini tidak ada badai. Hari ini saya menyendiri didepan monitor saya, menunggu untuk sekedar berkata..
"Halo."
Tidak perlu alasan untuk membuat blog, bukan?
Langganan:
Komentar (Atom)

