Ser.en.dip.i.ty.
Ketidaksengajaan yang menyenangkan.
Kata ini, kerap menarik saya kembali pada masa silam. Masa dimana kita adalah kamu. Ya. Kamu. Hanya kamu.
Menarik memang, bagaimana kamu adalah serendipity saya. Karena bukan saya yang menemukan kamu, tapi kamu yang menemukan saya, ketika kamu sedang mencari dia, gadis buta yang sedang bersamamu waktu itu. Buta karena dia tidak bisa melihat kebusukan kamu.
Tapi saya bisa. Ya. Saya bisa.
Saya bisa melihat bagaimana kamu mempermainkan gadis itu, dan mematahkan hatinya begitu saja. Katamu, semua itu demi saya. Ironis memang, kamu menemukan saya ketika sedang mencarinya, mencari kekurangan gadis itu. Dengan jahatnya, saya membela kamu. Saya tidak yakin mengapa, karena pada akhirnya kita saling melepaskan kenyataan dan sampai sekarang kita masih mengadu fakta yang tidak memiliki ujung. Haha! Ukiran mimpi itu masih terikat, bukan?
Saya menemukanmu ketika saya sedang mencari kesendirian. Namun bukan kesendirian yang saya dapatkan, tapi kita dan kita itu adalah kamu--dan kamu lebih menyenangkan dibanding kesendirian saya. Paling tidak sebelum saya bisa melihat wajah asli kamu.
Kamu tidak jahat, sama sekali tidak. Malaikat bertopeng iblis, semua terjadi hanya demi mempertahankan pemikiranmu--yang bila saya tidak berjanji untuk merahasiakannya, saya sudah beritakan sejak dulu.
Tentu, saya masih mengingatmu dan ukiran itu. Bukan karena janji kita untuk saling membohongi diri, tapi karena kamu mengajari saya untuk mengukur sifat dengan waktu dan perbandingan masa itu. Kamu membuat saya yakin, keseimbangan hanyalah hal paling bodoh yang selama ini kita kejar, keseimbangan pula yang mengejar kita hingga jatuh terpuruk dalam lubang hitam yang tidak segan menghisap kebahagiaan yang dulu mengitari kita.
Tidak peduli berapa kali kita menemukan jalan untuk kembali, pada akhirnya kita hanyalah akan saling melepaskan. Dan lepas atau tidaknya ukiran itu, kamu masih menjadi serendipity saya.
Kamu tidak jahat, sama sekali tidak. Malaikat bertopeng iblis, semua terjadi hanya demi mempertahankan pemikiranmu--yang bila saya tidak berjanji untuk merahasiakannya, saya sudah beritakan sejak dulu.
Tentu, saya masih mengingatmu dan ukiran itu. Bukan karena janji kita untuk saling membohongi diri, tapi karena kamu mengajari saya untuk mengukur sifat dengan waktu dan perbandingan masa itu. Kamu membuat saya yakin, keseimbangan hanyalah hal paling bodoh yang selama ini kita kejar, keseimbangan pula yang mengejar kita hingga jatuh terpuruk dalam lubang hitam yang tidak segan menghisap kebahagiaan yang dulu mengitari kita.
Tidak peduli berapa kali kita menemukan jalan untuk kembali, pada akhirnya kita hanyalah akan saling melepaskan. Dan lepas atau tidaknya ukiran itu, kamu masih menjadi serendipity saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar