Belakangan ini ada kamu, masih di tempat yang sama, dalam tikungan yang tidak berbeda.
Sebuah tikungan berbaris jurang, berlengan bulan dan ditemani oleh parit-parit ringan yang menyediakan satu bentuk kehanyutan. Kamu selalu berdiri disana, ditengah-tengah tikungan, beradu pandang dengan lonceng yang menikam nyawa pendengarnya.
Kamu hidup bukan hanya dari kenangan. Toh, kadang kamu menyapa, sekedar candaan ringan dengan senyum seadanya atau dalam diam dengan seribu pikiran yang mengusik pendirian--dan dalam diam itupun saya menunggu.
Tidak mudah mencari bahasa yang tepat untuk menciptakan nada yang serupa, tapi kamu membuat segalanya menjadi mudah, menggoda saya untuk masuk dalam parit yang memendam semua parau kerinduan, burung gagak pun menertawakan saya yang iya-iya saja mengayuh roda yang tidak bundar.
Kadang kamu menggunakan ilusi dalam setiap sudut bayangan, menghibur saya dalam masih tenggelam menuju kegelapan yang mereka ciptakan. Kamu sanggup memberikan saya kekuatan untuk menarik senyum yang enggan saya pamerkan.
Setelah memberikan candu yang mengikat, kamu menghilang. Kembali pada diam dan lonceng bisu itu--lonceng yang hanya dapat didengar oleh orang yang meregang nyawanya. Itukah ambisimu? Ingin saya mengalah pada ego dan meninggalkanmu begitu saja. Tapi saya tidak bisa.
Karena saya.. sayang kamu.
Dan disini.. kembali saya pada tikungan itu, menunggu kabut pekat yang masih mencari waktu untuk menurunkan dinding-dinding kemaraunya, menunggu terucapnya kita yang masih bersandar pada matahari senja dan mimpi-mimpi cantik yang belum terselesaikan.
Saya menunggu kamu dan semua ilusi arogansi kita. Masih di tikungan itu... Masih bersama rintik cahaya yang enggan hilang atau dilupakan begitu saja.
Malam, mengapa masih diam?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar