Kamis, 23 Januari 2014

Kasih itu..

Kasih itu bagai senja.
Cantik. Guratan maya yang memikat
abstraksi ditolak dalam gundahnya.
Upacara penyambutan malam yang biasa.

Kasih itu bagai pagi.
Hangat. Sedikit biru dimata abu-abu
dan akhirnya dia datang.
Panggilan selamat tinggal untuk malam.

Kasih itu..
bukan aku yang akan tinggal
bukan kamu yang seperti bayang.
Bukan kita yang dulu bahagia dalam ambang.

Tapi kasih pernah tinggal
diantara semak-semak kisah
yang kamu bawa dibalik kedua mata.
Jembatan yang mengenalkan merpati hitam.

Kasih itu kelabu.
Sendu dan penuh tanda tanya.
Apakah kita masih bersama?
Apakah kita pernah bersama?

Kasih itu kita yang maya.
Hanya terlelap pada yang bukan dalam kenyataan.

Kamis, 16 Januari 2014

Takdir yang Percaya

Kalau takdir itu nyata, apakah kita tidak lebih dari bayangan fana?

Katamu, kamu tidak percaya takdir. Takdir terletak terlalu jauh dari abstraksi yang kamu ukir musim itu.

Katamu. Kembali.

Aku masih melihat penyesalan pada kedua mata yang penuh cahaya. Berbinar terlalu terang. 
Sementara bintang-bintang itu hanya bisa mengamati dari jauh.
Bahkan bintang-bintang itu iri dengan gemerlapnya mata hitam dikepalamu.

Katamu. Penyesalan tidak datang dua kali. Kembali aku menertawakan teori bodoh yang kau percayai. 

Takdirkah semua itu?

Dan kalau takdir itu nyata, apakah aku dan kamu tidak lebih dari gurauan senja?

Dulu, kita saling berjanji, tidak ada ikatan yang sanggup mengikat kepercayaan. 
Namun hampir semuanya, tidak lebih dari ilusi kosong. Omong kosong.

Ilusi itu milikmu. Setiap guratannya yang tertulis nadi dalam keandai-andaian. Nyatanya kita tidak sedang bermimpi, kita berlari.

Detik itu kembali mengejar, menagihkan setiap menitnya. Nyatanya, aku masih tidak bisa  melepasmu.

Bayang masa lalu itu tidak pernah bersembunyi. Dia menantikanmu. Aku juga menantikanmu.

Takdirkah, penantian itu?

Klise. 
Penantian bukan perkara waktu, katamu. Perkara siapa yang tinggal lebih lama.
Dan matamu kembali berpenjar. 
Kembali pada takdir itu. Ingatkah?

Katamu, kamu tidak percaya pada takdir. Kenyataannya? 
Takdir selalu mempercayaimu.