Minggu, 24 Agustus 2014

Bisu dan Hujan


Bisu itu akan kembali.
    Entah dengan pasir yang dibentur ombak atau karang yang tak kunjung tenggelam.
    Entah dengan anggukan anggun si sombong atau dengan diamnya perbincangan.
Puing itu akan terbentuk sekali lagi.
    Dan demi hembus angin barat, hujan-pun bisu kembali.


Bicara Kehidupan

Kehidupan bukanlah sebuah fakta yang dapat dibaca, dihapal bukan pula sesuatu yang dapat diingat. Kehidupan lebih dari itu. Faktanya adalah tiap individu memiliki pengertian sendiri terhadap kehidupan. 

Seorang akademis mungkin akan mengatakan bahwa kehidupan adalah sebuah kondisi yang membedakan hewan (animals) dan tanaman dari hal-hal yang tidak organik, termasuk kapasitas untuk tumbuh, bereproduksi, melakukan aktifitas fungsional dan perubahan yang berkelanjutan yang mendahului kematian. 

Tapi apakah itu kehidupan?

Seorang yang jatuh cinta mungkin akan mengatakan bahwa kehidupan adalah untuk hidup bersama dengan kekasihnya, menjalin hubungan yang kekal untuk saling setia dan mendampingi satu sama lain. 

Seorang gelandang mungkin mengatakan bahwa kehidupan adalah untuk tetap bertahan hidup, dari hari ke hari, mendapat makanan yang layak dan tempat tinggal yang menyenangkan.

Mungkin, seorang lainnya akan mengatakan bahwa kehidupan adalah mendapatkan teman dan melakukan petualangan dari hari ke hari, menjelajah waktu dan semesta, memberikan siang dan malam sebuah makna dan makna itulah kehidupannya. 

Seorang puitis mungkin akan merangkaikan sajak-sajaknya untuk memberikan definisi kehidupan, bermain dengan setiap bait untuk memperoleh jawaban yang memuaskan benaknya.

Tapi apakah hanya sebatas itu kehidupan? Apakah kehidupan hanyalah sebuah filosofi? Apakah kehidupan adalah mengumpulkan memori?

Kehidupan lebih dari itu. Kehidupan memberikan sentuhan hidup bagi siapapun yang hidup didalamnya.
Karena kehidupan itu..

.. adalah menjalani hidup itu dengan caranya sendiri. 

Kamis, 23 Januari 2014

Kasih itu..

Kasih itu bagai senja.
Cantik. Guratan maya yang memikat
abstraksi ditolak dalam gundahnya.
Upacara penyambutan malam yang biasa.

Kasih itu bagai pagi.
Hangat. Sedikit biru dimata abu-abu
dan akhirnya dia datang.
Panggilan selamat tinggal untuk malam.

Kasih itu..
bukan aku yang akan tinggal
bukan kamu yang seperti bayang.
Bukan kita yang dulu bahagia dalam ambang.

Tapi kasih pernah tinggal
diantara semak-semak kisah
yang kamu bawa dibalik kedua mata.
Jembatan yang mengenalkan merpati hitam.

Kasih itu kelabu.
Sendu dan penuh tanda tanya.
Apakah kita masih bersama?
Apakah kita pernah bersama?

Kasih itu kita yang maya.
Hanya terlelap pada yang bukan dalam kenyataan.

Kamis, 16 Januari 2014

Takdir yang Percaya

Kalau takdir itu nyata, apakah kita tidak lebih dari bayangan fana?

Katamu, kamu tidak percaya takdir. Takdir terletak terlalu jauh dari abstraksi yang kamu ukir musim itu.

Katamu. Kembali.

Aku masih melihat penyesalan pada kedua mata yang penuh cahaya. Berbinar terlalu terang. 
Sementara bintang-bintang itu hanya bisa mengamati dari jauh.
Bahkan bintang-bintang itu iri dengan gemerlapnya mata hitam dikepalamu.

Katamu. Penyesalan tidak datang dua kali. Kembali aku menertawakan teori bodoh yang kau percayai. 

Takdirkah semua itu?

Dan kalau takdir itu nyata, apakah aku dan kamu tidak lebih dari gurauan senja?

Dulu, kita saling berjanji, tidak ada ikatan yang sanggup mengikat kepercayaan. 
Namun hampir semuanya, tidak lebih dari ilusi kosong. Omong kosong.

Ilusi itu milikmu. Setiap guratannya yang tertulis nadi dalam keandai-andaian. Nyatanya kita tidak sedang bermimpi, kita berlari.

Detik itu kembali mengejar, menagihkan setiap menitnya. Nyatanya, aku masih tidak bisa  melepasmu.

Bayang masa lalu itu tidak pernah bersembunyi. Dia menantikanmu. Aku juga menantikanmu.

Takdirkah, penantian itu?

Klise. 
Penantian bukan perkara waktu, katamu. Perkara siapa yang tinggal lebih lama.
Dan matamu kembali berpenjar. 
Kembali pada takdir itu. Ingatkah?

Katamu, kamu tidak percaya pada takdir. Kenyataannya? 
Takdir selalu mempercayaimu.